Bingung memulai semuanya darimana. Mimpi itu tlah ada sejak
dulu,bukan hanya sekedar ketidaksengajaan,bukan karna mengikuti tren,tapi karna
aku menemukan rasa berbeda saat melakukannya,dan aku ingin mewujudkan mimpi
itu. Menjadi pendengar yang baik jika seseorang bercerita tentang
masalahnya,memberikan saran jika dibutuhkan,memperhatikan gerak-gerik
seseorang,peka terhadap perasaan sesama, dan memperdalam segala ilmu tentang
kejiwaan menurutku tidaklah buruk. Tapi pandanganku tentang itu semua ditolak
mentah-mentah oleh papa,perbedaan
pendapat itu muncul seketika.
“Sarjana psikologi sudah terlalu banyak”ujar papa malam itu.
Disaat lagi-lagi kami berdebat mengenai masa depanku. Apa yang dapat aku
lakukan,hanya diam mendengarkan barisan kalimat yang keluar dari bibir papa.
“Papa gak mau hidupmu dikelilingi masalah orang lain,kamu gak mempunyai privasi
bahkan jam kerja yang pasti.” Tapi jujur untuku itu tak masalah,selagi aku
menjalani semuanya dengan sepenuh hati dan ikhlas,sebaris kalimat itu cukup aku
utarakan dalam hati,tak mampu mengucapkannya langsung di depan papa.
Aku cukup memahami papa,yang ingin anaknya sukses,aku juga
ingin memberikan kebahagian pada papa tapi dengan caraku -,-
Hening menyelimuti diskusi malam ini,jam sudah berdenting
sepuluh kali. Entah apa yang papa pikirkan selama keheningan ini,toh aku juga asik
tengah berpikir tentang pilihan ini semua. Bagaimana mendapat satu pilihan yang
pasti tapi harus menyatukan dua pemikiran berbeda. Tiba-tiba papa berkata “kamu
tlah mampu membuka usaha sendiri,kenapa kamu tdak memperdalamnya..” kalimat itu
menggantung. Otakku otomatis mencari kelanjutan kalimat itu, ya aku dapat
mengambil tentang bisnis. “Kasih aku waktu buat searching jurusan bisnis pah”
ucapku pada papa,dan setelahnya aku izin untuk tidur. Aku yakin papa
memahamiku,dan memberikan aku waktu untuk berpikir lagi.
***
Malam berikutnya,dengan pikiran yang jernih aku berbicara
pada papa. Ingin mendiskusikan pilihanku lagi. “Pah komunikasi sama bisnis
pariwisata di unibraw.” Ucapku langsung.
Respon yang diberikan papa hanya mengangguk dan diam. Aku
tau papa sedang mempertimbangkan pilihanku tersebut. Dan jawabannya...
“Lumayan,bagus juga” hanya itu –‘ yang papa ucapkan. Tak lama berselang,papa
angkat bicara lagi “Papa ingin nantinya kamu yang mengelola toko kita lagi,atau
kalau perlu kamu buat usaha baru, papa akan slalu siap bantu selagi bisa.
Menjadi karyawan seumur hidup,atau pengusaha ?” secara tidak langsung papa
menanyakan hal itu “Pengusaha lah..” ku jawab dengan pasti. Ya dari dulu
pemikiranku tentang hal ini memang tlah sama dengan papa. Papa tlah menanamkan
jiwa wirausaha dalam hidupku. Hidup dengan usaha sendiri,menentukan gaji
sendiri bukannya digaji oleh orang lain.
Dan satu keputusan tlah kami sepakati,ternyata tidak terlalu
rumit.Setelah ini aku memikirkan pilihan kedua,mengambil unmul dengan jurusan
komunikasi dan satu lagi belum tau pasti. Masih bimbang,dan sepertinya papa
juga. Papa belu memberikan pilihan yang lain lagi,papa bilang ia ingin melihat
semua jurusan di unmul dulu mempelajarinya lalu mengusulkannya padaku. Akupun
mengiyakannya.
***
Dan ini untuk yang keberapa kali lagi,entahlah diskusi terjadi
antara aku dan papa. Papa menawarkan beberapa pilihan padaku untuk menjadi
cadangan ke empat. “Bagaimana dengan manajemen,ekonomi,pendidikan luar
sekolah,atau administrasi niaga ?” ucap papa mantap.
“manajemen sama aja kayak psikologi juga udah terlalu banyak
pah sarjananya,ekonomi juga _._ pndidikan luar sekolah bakal jadi guru,aku gak
bisa, aku searching lagi deh tentang ilmu admin niaga itu yah” jawabku
sekenanya.
Saat itu juga aku searching,ternyata hasilnya tidak buruk
bahkan cukup menarik bagiku. Belajar bisnis,ada komunikasinya juga,perpajakan
juga sedikit muncul,dan teknologi bisnis.
Setelah itupun aku langsung mengisi formulir jalur
undangan,bismilah semoga gak salah pilih dan gak sia-sia semuanya,ucapku pelan
dalam hati. Keyakinanku untuk langsung mendaftar adalah karna restu dari orang
tua,karna yang kuyakini restu mereka berarti restu Allah swt juga,tanpa aku
harus berpikir panjang.
Semua ini kulakukan juga demi mereka,papa dan mama. Ingin
melihat mereka senyum bahagia,membalas semua pengorbanan mereka tak ada yang
lain.
Pilihan hidupku mengukir rasa bangga di hati mereke
Dengan penuuh cinta :*