Pages

Senin, 05 Maret 2012

Pilihan Hidup ? (laglagi)


Bingung memulai semuanya darimana. Mimpi itu tlah ada sejak dulu,bukan hanya sekedar ketidaksengajaan,bukan karna mengikuti tren,tapi karna aku menemukan rasa berbeda saat melakukannya,dan aku ingin mewujudkan mimpi itu. Menjadi pendengar yang baik jika seseorang bercerita tentang masalahnya,memberikan saran jika dibutuhkan,memperhatikan gerak-gerik seseorang,peka terhadap perasaan sesama, dan memperdalam segala ilmu tentang kejiwaan menurutku tidaklah buruk. Tapi pandanganku tentang itu semua ditolak mentah-mentah  oleh papa,perbedaan pendapat itu muncul seketika.
“Sarjana psikologi sudah terlalu banyak”ujar papa malam itu. Disaat lagi-lagi kami berdebat mengenai masa depanku. Apa yang dapat aku lakukan,hanya diam mendengarkan barisan kalimat yang keluar dari bibir papa. “Papa gak mau hidupmu dikelilingi masalah orang lain,kamu gak mempunyai privasi bahkan jam kerja yang pasti.” Tapi jujur untuku itu tak masalah,selagi aku menjalani semuanya dengan sepenuh hati dan ikhlas,sebaris kalimat itu cukup aku utarakan dalam hati,tak mampu mengucapkannya langsung di depan papa.
Aku cukup memahami papa,yang ingin anaknya sukses,aku juga ingin memberikan kebahagian pada papa tapi dengan caraku -,-
Hening menyelimuti diskusi malam ini,jam sudah berdenting sepuluh kali. Entah apa yang papa pikirkan selama keheningan ini,toh aku juga asik tengah berpikir tentang pilihan ini semua. Bagaimana mendapat satu pilihan yang pasti tapi harus menyatukan dua pemikiran berbeda. Tiba-tiba papa berkata “kamu tlah mampu membuka usaha sendiri,kenapa kamu tdak memperdalamnya..” kalimat itu menggantung. Otakku otomatis mencari kelanjutan kalimat itu, ya aku dapat mengambil tentang bisnis. “Kasih aku waktu buat searching jurusan bisnis pah” ucapku pada papa,dan setelahnya aku izin untuk tidur. Aku yakin papa memahamiku,dan memberikan aku waktu untuk berpikir lagi.
                                                                                   ***
Malam berikutnya,dengan pikiran yang jernih aku berbicara pada papa. Ingin mendiskusikan pilihanku lagi. “Pah komunikasi sama bisnis pariwisata di unibraw.” Ucapku langsung.
Respon yang diberikan papa hanya mengangguk dan diam. Aku tau papa sedang mempertimbangkan pilihanku tersebut. Dan jawabannya... “Lumayan,bagus juga” hanya itu –‘ yang papa ucapkan. Tak lama berselang,papa angkat bicara lagi “Papa ingin nantinya kamu yang mengelola toko kita lagi,atau kalau perlu kamu buat usaha baru, papa akan slalu siap bantu selagi bisa. Menjadi karyawan seumur hidup,atau pengusaha ?” secara tidak langsung papa menanyakan hal itu “Pengusaha lah..” ku jawab dengan pasti. Ya dari dulu pemikiranku tentang hal ini memang tlah sama dengan papa. Papa tlah menanamkan jiwa wirausaha dalam hidupku. Hidup dengan usaha sendiri,menentukan gaji sendiri bukannya digaji oleh orang lain.
Dan satu keputusan tlah kami sepakati,ternyata tidak terlalu rumit.Setelah ini aku memikirkan pilihan kedua,mengambil unmul dengan jurusan komunikasi dan satu lagi belum tau pasti. Masih bimbang,dan sepertinya papa juga. Papa belu memberikan pilihan yang lain lagi,papa bilang ia ingin melihat semua jurusan di unmul dulu mempelajarinya lalu mengusulkannya padaku. Akupun mengiyakannya.
                                                                                ***
Dan ini untuk yang keberapa kali lagi,entahlah diskusi terjadi antara aku dan papa. Papa menawarkan beberapa pilihan padaku untuk menjadi cadangan ke empat. “Bagaimana dengan manajemen,ekonomi,pendidikan luar sekolah,atau administrasi niaga ?” ucap papa mantap.
“manajemen sama aja kayak psikologi juga udah terlalu banyak pah sarjananya,ekonomi juga _._ pndidikan luar sekolah bakal jadi guru,aku gak bisa, aku searching lagi deh tentang ilmu admin niaga itu yah” jawabku sekenanya.
Saat itu juga aku searching,ternyata hasilnya tidak buruk bahkan cukup menarik bagiku. Belajar bisnis,ada komunikasinya juga,perpajakan juga sedikit muncul,dan teknologi bisnis.
Setelah itupun aku langsung mengisi formulir jalur undangan,bismilah semoga gak salah pilih dan gak sia-sia semuanya,ucapku pelan dalam hati. Keyakinanku untuk langsung mendaftar adalah karna restu dari orang tua,karna yang kuyakini restu mereka berarti restu Allah swt juga,tanpa aku harus berpikir panjang.

Semua ini kulakukan juga demi mereka,papa dan mama. Ingin melihat mereka senyum bahagia,membalas semua pengorbanan mereka tak ada yang lain.  


Pilihan hidupku mengukir rasa bangga di hati mereke


Dengan penuuh cinta :*

0 komentar:

Posting Komentar